Tuan dan waktu
Kata orang, tuan ini paginya selalu cerah. Kedua sudut bibirnya merekah, langkahnya terarah, dan segalanya terlihat mudah seperti tak pernah salah.
Kata orang, tuan ini siangnya mulai layu. Tak sekuat dulu, terlalu banyak mau, terlalu usang hingga tak layak 'tuk ditopang.
Lewat pantulan cermin netranya seperti melihat debu, dan sekelilingnya tertawa entah apa yang lucu, katanya Ia terlalu sendu.
Orang-orang lupa pada malamnya sang tuan. Menghitung berapa anak panah yang tepat sasaran menusuk dirinya, Ia cabut lalu dititipkannya pada rembulan
Dini hari, sang tuan termangu, berhenti sampai sini atau bertemu lebih banyak wujud baru, tentunya bukan yang mencipta malu. Ia tetap melangkah maju meski segalanya masih terasa kelabu, tak mau terburu, dan enggan sering-sering membuka pintu untuk tamu.
Satu-persatu Ia lepas yang sudah tak mau, rasanya lebih baik daripada memelihara sayu, Tuan yang selalu berlindung di ruang sempit tapi jiwanya menjelajah langit
Tuan ini tak gagal, dengan nyawa yang tersisa, Ia ingin mencintai dirinya lebih banyak lagi. Dengan sisa hidup yang entah sampai kapan
Komentar
Posting Komentar