Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Apakah judul itu penting?

Untukmu ntah siapapun sebutan namamu, Tanpamu aku angka-angka Yang tak kenal diri sendiri, Dalam tubuh desimal, cacah, rasional  Atau tubuh-tubuh lain dalam deret angka Tanpamu aku tak ambil peduli Warna kulit, darah atau bahasa beribu rupa Tanpamu aku bisa saja tersesat lagi Tanpamu aku kecacatan yang angkuh Melawan takdir yang berujung kematian. Tapi sepertinya sedang diuji seberapa Kuat kamu melewati rintangan itu Dan seberapa layak kamu mendapatkan Apa yang sedang kamu perjuangkan Dan kini harapan-harapan pun timbul Dengan penuh rasa syukur atas segala Algortima kehidupan yang dilalui bersama

Dinding diam

Jika aku sanggup berdoa pada diamku kemana aku akan berlari dan menemukan pelukan selain sunyi  tiap pertanyaan itu membeli takdir dan menjual jiwaku di jalanan Aku seperti sampah-sampah di balik dinding rumah, seperti sebotol bir yang pecah di kepala seseorang, merangkak memberi setitik terang pada napas yang kuhirup sia-sia  Aku tak berjalan melampaui waktu, dan siap menerima apapun penuh resah Tak ada hadiah atau makna yang jujur, ini dunia dan tak ada yang akan mendengarkanmu. Bu, aku dapatkan tidur dari sebuah alasan,  aku butuh tenang sedikit dan menjadi apapun yang kusukai Ibu, aku hanya letih sewaktu-waktu,  aku bukan seperti pria yang keren di jalanan  dan tak kutangisi lagi.

Lusuh

Catatan-catatan lusuh ini telah menjadi sejarah tersendiri bagi kita. bukan kita, hanya aku lebih tepatnya. Untaian kata di dalamnya menggambarkan dengan jelas bagaimana aku menyukai setiap momen kita bersama. Meski bagimu tidak bermakna, tapi aku masih tetap menyukainya. Kau tahu, di setiap harinya, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam menjaga. Entah itu menjagamu dari apa pun bentuk luka, entah itu menjaga diriku sendiri dari apa pun bentuk ungkapan rasa. Aku menjaga itu semua. Seorang diri hingga saat ini. Kau tahu, setiap mataku beradu pandang denganmu, jantung ini bekerja lebih cepat dari biasa. Dan setiap itu terjadi, aku hanya bisa diam, tanpa berani dan tetap menjaga agar rasaku ini masih tersimpan sempurna. Hingga pada suatu hari, aku tak dapat lagi menahan apa yang selama ini terasa di hati dan terpikirkan di kepala. Aku tak dapat lagi memendam, hingga rasa itu keluar dan kau mendengar itu semua begitu saja. Saat itu, aku melihatmu begitu terkejut entah karena bar...

kartavyah Viyogah

Aku tersudutkan  Di atas tebing yang menjadi pembatas, Antara Rahmat Tuhan yang maha luas  Dan nafsu birahi yang membuatku puas Kaki ini sudah sangat ingin melangkah Namun tak tau jalanan mana yang akan di susuri Bingung dan gundah menjadi satu Semakin mengeras kan otak yang membeku Ingin sekali kutunjuk yang pertama Tapi hati tak dapat memungkirinya Kau akan tenggelam Ketika kau tak paham apa yang kau selami Kau hanyut tak punya makna  Mengambang menunggu air mengalir Namun ketika kau memahaminya  Kau berenang dengan riang  Berinteraksi dengan nyaman  Tanpa takut tersundut. Namun pemikiran ku itu Dipatahkan langsung olehnya Sang penguasa segalanya Yang menciptakan segalanya

Avedana

aku melihatmu begitu terkejut entah karena baru mengetahui apa yang kurasa sejak lama, entah karena kau takut bahwa aku akan terluka. Entahlah, aku tidak bisa berpikir apa-apa. Perasaanku begitu dalam padamu dan tak Bisa kusembunyikan lagi keberadaannya. Tuhan aku pasrah,  Jika pada akhirnya setiap harapku  bukan yang terbaik menurutmu.  Kau yang Maha tau sementara  Aku hanya sebatas manusia  yang banyak mau ~

Aku

Jika aku boleh bicara, Aku akan bicara tentang cinta. Aku akan bicara tentang romansa.  Aku akan bicara tentang kita.  mungkin waktu dapat melahapmu dengan habis tapi percayalah bahwa Jejak dari apa-apa yang pernah kau Tapaki tak akan pernah hilang begitupun dalam relung dadaku. Terdapat rasa yang telah kutanam sejak pertama kali mengenalmu, setiap Jengkalnya Ruang dalam hidupku ialah segalamu. Memandang afeksimu yang senantiasa bertabur harsa, kau beri secercah cahaya pada legamnya jalan-jalan yang kulalui. Memberi petunjuk dari rasa luka yang menghantui Maka esok atau kapanpun itu, biar aku tetap mengenang baiknya Dirimu bahkan dalam pesakitan yang lebih dalam. Biar kusimpan di antara denting waktu yang berjalan mengelabuhiku kau ada dalam angan ataupun sadarku sesuatu yang seharusnya kuberitahu

Tuan dan waktu

Kata orang, tuan ini paginya selalu cerah. Kedua sudut bibirnya merekah, langkahnya terarah, dan segalanya terlihat mudah seperti tak pernah salah. Kata orang, tuan ini siangnya mulai layu. Tak sekuat dulu, terlalu banyak mau, terlalu usang hingga tak layak 'tuk ditopang. Lewat pantulan cermin netranya seperti melihat debu, dan sekelilingnya tertawa entah apa yang lucu, katanya Ia terlalu sendu.  Orang-orang lupa pada malamnya sang tuan. Menghitung berapa anak panah yang tepat sasaran menusuk dirinya, Ia cabut lalu dititipkannya pada rembulan Dini hari, sang tuan termangu, berhenti sampai sini atau bertemu lebih banyak wujud baru, tentunya bukan yang mencipta malu. Ia tetap melangkah maju meski segalanya masih terasa kelabu, tak mau terburu, dan enggan sering-sering membuka pintu untuk tamu. Satu-persatu Ia lepas yang sudah tak mau, rasanya lebih baik daripada memelihara sayu, Tuan yang selalu berlindung di ruang sempit tapi jiwanya menjelajah langit Tuan ini tak gagal, dengan nyaw...

Jangan Ragu

Aku beri tahu tentang beberapa yang tak jarang orang ketahui, ini tentang gatra yang sungguh tak akan kau temui dalam sebatang rokok dan secangkir kopi Ataupun pada perempatan jalan apalagi pada angkringan yang membisu  Mungkin kini ragu sedang menggerogotimu, membentuk benteng kokoh perihal tanya yang begitu menakutkan akan sebuah kehidupan Jangan sudahi dulu, aku belum selesai.. Saat itu, aku melihatmu begitu terkejut entah karena baru mengetahui apa yang kurasa sejak lama, entah karena kau takut bahwa aku akan terluka. Entahlah, aku tidak bisa berpikir apa-apa. Perasaanku begitu dalam padamu dan tak bisa kusembunyikan lagi keberadaannya. Selepas ini semua, aku ikhlas melepasmu dengan dia yang senantiasa kau cinta. Selepas ini semua, aku ikhlas melepas rasa dan pergi membiarkanmu bahagia–meski bukan denganku akhirnya. Aku tak apa-apa. Aku baik-baik saja. Sebab kau harus tahu, bahagiamu adalah hal yang paling utama dan aku sudah terbiasa

KAMU DAN SEGALANYA

Kamu meramu mantra-mantra bijak Kesederhanaan hidup yang kamu idam-idamkan Tapi diammu adalah kepalsuan  Menutupi kesenjangan yang sengaja tampil memukau Kamu pun terpaksa harus pura-pura mengerti Sedang akal masih terperangkap belenggu Nurani yang menolak jujur perihal kesungguhan diri Bahwa sosok di cermin itu adalah amarah yang sedang menggebu Realitas memaksamu bijak menyikapi tragedi Dalam pendewasaan diri Tapi Kamu justru terjebak dalam perangkap Kebodohan sendiri Akui saja dirimu bukanlah yang terbaik Karena itu satu-satunya jalan keluar dari belenggu yang menyiksa hati Kamu gagal, dan itu benar Kamu gagal, dan itu wajar Karena kita manusia Kamu bukan burung hantu bijaksana dalam cerita dongeng malam Terimakasih karena tetap hidup ! - 23 oct